Kegagalan Harapan Orangtua.
Di desa Tindra ada keluarga yang kehidupannya berkecukupan dan tinggal di pendalaman yang jauh dari perkotaan. Mereka adalah keluarga Pak Dian dan Bu Dian. Keluarga pak Dian dan Bu Dian sering di julukin rakyat keluarga UDI yang artinya Susah dan Sedih. Sepasang suami istri ini menikah di usia yang ke-34 tahun, dan mereka telah di anugerahkan seorang anak yang sangat tampan, cerdas dan berbakti pada orangtua yang di beri nama Tari. Tari adalah anak kesayangan dari keluarga UDI yang berusia 16 tahun (Kelas XI-IPA di SMA N 2 Tindra) apapun permintaannya mereka penuhi, mereka rela banting tulang, tidak makan demi sibuah hatinya.
Tak terasa waktu berlalu, kini Tari telah duduk di bangku kelas XII-IPA, Dia adalah siswa yang berprestasi dan berperilaku baik. Selain itu, Dia juga siswa yang pendiam dan mampu memahami keadaan teman sekitarnya. Tak heran jika semua gadis di sekolahnya bersaing menanamkan cinta dengannya. Hari demi hari, kini Tari telah berada di ujung hari mengakhiri tingkat SMA dan Dia memiliki keinginan untuk melanjut di Perguruan Tinggi Negeri. Namun, seribu pandangan muncul di pikirannya mengingat Ekonomi keluarganya yang tidak mendukung dan usia orangtuanya yang tidak memungkinkan.
Seperti biasanya menjelang malam keluarga ini berkumpul untuk bercerita, entah apapun yang mereka omongin. Namun di tengah perkumpulan ini Tari mengangkat satu topik pembicaraan tentang masa depannya" Pak, Bu sebentar lagi saya akan tamat dan saya ingin melanjut di perguruan tinggi," Nak, bagaimana kami sanggup untuk membiayamu, kamu tentu tau langsung bagaimana perjalanan yang telah kami lalui untuk biayamu di SMA ini" jawab ibu sambil menangis." Betul apa kata Ibumu Tari, saya saat ini sudah berusia 74 tahun dan penyakit sering menyerangku. Ibumu juga sekarang berusia 70 tahun. Keinginan kami berdua adalah ingin mencium cucu tercinta kelak sebelum kami mengakhiri nafas terakhir" tambah Ayah. Tari hanya terdiam mendengarkan perkataan orangtuanya, tanpa berpikir panjang dia ke kamar sambil menangis.
Keesokan harinya,seperti biasanya pasangan ini pergi ke ladang dan setibanya di ladang" Bu, saya merasa kasihan dengan anak kita Tari yang akhir-akhir ini Dia tidak pernah semangat lagi." Iya Pak, saya juga merasakan hal yang sama tapi apa yang harus kita lakukan. Kita tau bahwa Dia adalah satu-satunya anak kesayangan kita, kita ingin Dia tidak mengalami nasib yang sama seperti yang telah kita alami saat ini. Tapi apa yang harus kita lakukan pak? Apa, apa Pak? Sahut Ibu sambil menangis. Pasangan ini kemudian saling berpelukkan hingga bercucuran air mata dan merasa bersalah karena mereka tidak mampu mewujudkan impian anaknya.
Waktu terus berjalan, kini Tari akan menghadapi UN dan dengan semangat yang luar biasa Dia belajar untuk persiapan UN karena berharap bisa menlanjut di Perguruan Tinggi nantinya lewat jalur Rapor. Kini waktunya adalah pelaksanaan UN. Tari selalu semangat sehingga untuk menjawab pertanyaan UN tampak terlihat santai dan tercepat.
Dua bulan setelah itu pengumuman hasil kelulusan akan tiba." Selamat pagi anak-anak". Sapa Bapak kepala Sekolah. " Selamat pagi pak". Sahut Siswa." Sekarang adalah pengumuman hasil kelulusan bagi kalian semua dan puji Tuhan untuk kalian semua yang berjumlah 130 orang dalam kategori "Lulus" dan pada kesempatan ini juga saya mengumumkan bahwasanya di antara kalian terdapat seorang siswa yang wajib kita banggakan dengan rata-rata nilai UN yaitu 96,75. Dia adalah Tari". Hadirin langsung menatap Tari sekaligus mengucapkan kata selamat. Selesai dari sekolah, Tari bergegas untuk pulang ke rumah dengan harapan orangtuanya berada di rumah. Setibanya di rumah, Tari menghampiri orang tuanya yang sedang duduk dan dengan semangat Dia berkata"Pak, Bu, Tari Lulus dengan hasil yang memuaskan." Sambil menujukkan selembar kertas. Orangtuanya merasa bangga, namun di balik itu tiba-tiba suasana gembira menjadi tangisan dan ibu berkata" Nak, maafkan kami karena kami tidak mampu mewujudkan impianmu. Memang saudara ayahmu banyak yang berkedudukan tinggi ada Guru dan Dokter di Jakarta, namun mereka tidak peduli dengan kita". Tari hanya terdiam dan termenung.
Kerja keras sang Ayah dan beban pikiran yang bercampur aduk membuat Pak Dian sakit." Bapak lagi sakit? " Tidak anakku, Bapak tidak sakit tapi hanya kelelahan saja. Dua hari setelah itu, penyakit pak Dian semakin memburuk. Istrinya dan Tari tak bisa berbuat apa-apa selain mengoleskan berbagai jenis daunan. Namun, apa yang terjadi ? Di luar dugaan, sejam kemudian sang ayah menghembuskan nafas terakhir." Bu, ayah telah meninggalkan kita."Iya nak, ayahmu telah meninggalkan kita." Lalu apa yang harus kita perbuat? Tanya ulang. " kita berdua yang mengebumikannya anakku, kita tidak bisa memanggil tetangga karena jarak yang jauh dan juga saudara-saudara ayahmu" Kenapa, bu? Tanya Tari." Empat tahun yang lalu sebelum kakekmu meninggal, Dia telah membagi tanah kepada ayah dan saudara-saudara ayahmu dan kepada bapakmu bagian yang terbesar karena Dia tidak bersekolah. Tapi di balik itu semua tanpa di duga kedua saudara ayahmu pergi kerumah karena kecewa kepada kakekmu dan juga kepada bapakmu bahkan ketika kakekmu meninggal mereke belum dengar hingga saat ini."jelaskan sang Ibu. Setelah mendengarkan itu Tari menangis dan seakan-akan menaruh dendam terhadap saudara-saudara ayahnya. Lalu berkata" Bagaimana dengan ayah, siapa yang akan mengebumikannya?" Kita berdua yang melakukannya."Keesokkan harinya sang Istri dan anak mengebumikan Sang Ayah walaupun dengan rasa melelahkan.
Suasana hati yang sedih tak membuat Tari untuk kendor terhadap impiannya, 3 bulan kemudian dia mengingatkan kembali dengan ibunya impiannya"bu, aku ingin sama seperti teman-temanku yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk melanjut di perguruan tinggi, saya ingin membuktikan kepada saudara-saudara ayahku dan tetangga bahwasanya saya mampu membuat terobosan baru". Lalu apa yang harus saya laukan,? Saya tidak mampu untuk membiayamu." Kuta mempunyai tanah yang begitu luas dan tentu itu semua adalah milikku. Saya ingin semua tanah itu kita jual". Mendegarkan perkataan anaknya, sang ibu sedih karena seakan-akan tak yakin bahwa anaknya mampu mewujudkan impiannya." Kamu ingin melant dimana? Saya mau melanjut di Medan bu." Rencana kapan? Tanya sang ibu." Saya ingin besok berangkat." Apakah tidak terlalu cepat?" Tidak, bu." Baiklah jikalau itu pilihanmu dan disini ada tabungan selama aku dan Alm Ayahmu hidup sebesar Rp450.000 manfatkanlah uang ini sebaik-baiknya." Baik bu, saya akan mengelolah dengan baik.
Keesokan harinya" bu saya izin pamit untuk mewujudkan impian ibu dan Alm ayah. Jagalah diri dengan baik sehingga nanti kelak bisa bertemu ibu dengan wajah yang ceriah" Baiklah anakku, jaga dirimu disana dan jangan lupakan ibumu.
Setibanya di Medan:
"Hy guys, saya Jean dari Sindram." Hy saya Tari dari Tindra. Ngomong-ngomong kamu ke Medan ngapain? Tanya Jean." Aku mau kuliah." Ah, ngapin kuliah saya saja sudah sarjana tapi gak pernah dapat kerja, mening kamu ikut aku." Emangnya kamu kerja apa? Aku kerjanya penjual obat-obatan". Apa itu?" Obat-obat terlangkah. Sekali menghirup semua beban hilang dan dunia menjadi milik kita". Benarkah? Tanya Tari penasaran." Iya benar, jika ingin saya akan menerimamu tanpa syarat." Siap, aku bersedia". Keesokkan harinya : Tari ini adalah obat penyemangat yang saya maksud kemarin. Kamu bisa meminum dan menghirumnya guna menghilangkan beban dan memberikan kenyamanan". Tanpa berpikir Tari menerima obat itu dan melakukan seperti yang diperintahkan bahkan berulang-ulang.
Di perdesaan, bu Dian sakit karena usia yang sudah lansia." Tari sejak kamu pergi ibu tidak pernah mendengarkan kabarmu, sekarang sudah tiga bulan. Ibu tidak tahu apakah kamu telah melanjut atau tidak. Saya yakin bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu dengan wajahmu yang ceriah". Kata bu Dian dalam hati. Waktu terus berlalu, penyakit bu Dian semakin hari semakin parah hingga dia menghembuskan nafas terakhir tanpa siapapun yang mengetahuinya.
Dua hari kemudian, segerombolan pemburuh melewati gubuk tempat tinggal bu Dian."Hey cium rasa bau itu"?Tanya pemimpin rombongan." Betul dan rasanya itu bersumber di gubuk sana". Jawab salah satu anggota rombongan. Mereka menghampiri gubuk dan setibanya disana betapa kagetnya ketika mereka melihat wanita tua yang meninggal. Mereka bergegas untuk menolongnya dan membawa di perkotaan.
Setelah semua kejadianitu berlangsung, tiba-tiba Tari teringat akan ibunya dan dia berkomitmen untuk pulang." Jean, izinkan saya untuk bertemu dengan ibuku. Saya tidak tahu akhir-akhir ini perasaanku tidak enak tapi saya tidak punya uang untuk pulang dan semua titipan ibuku telah habis." Ini uang untukmu empat ratus ribu," lalu untuk makananku". Tanya Tari. "Biarlah itu menjadi usahamu" Jawab Jean sambil meninggalkan Tari. Akhirnya Tari bergegas pulang di kampung walaupun menahan rasa lapar karena perjalanan yang begitu jauh.
Setibanya di kampung....
"Ibu, ibu, Tari pulang..!!, Ibu dimana..!! Kamu siapa nak? Tanya salah seorang warga. " Saya Tari bu, anaknya bu Dian. Ibuku masih ada di gubuk ya?" Nak, tiga bulan yang lalu ibumu telah meninggal tanpa siapapun dan baru di temuin oleh segerombolan pemburu. Di perkirakan ibumu meninggal berkisar empat hari dan baru di temuin mayatnya". Tutur warga. Mendengarkan hal itu Tati menangis dan kegelapan menghampirinya, sejuta pikiran yang timbul karena merasa bersalah. Rasa bersalah yang berat membuat Tari salah langkah hingga akhirnya dia bunuh diri.
Jangan lupa di koment dan like guys, saya yakin bahwa tiap hari Anda mendapatkan update terbaru.
Jika Anda terinspirasi silahkan cantumkan kesan dan pesan yang bisa Anda ambil.
ReplyDeleteLuarbiasa
DeleteGood job zai
ReplyDelete