DI LEMA MORAL ANAK KOS
Pada dasarnya manusia diciptakan sebagai mahluk sosial yang membutuhkan individu lainnya untuk dapat bertahan dan melangsungkan kehidupannya. Keadaan sosial tersebut menuntut manusia untuk hidup berdampingan dengan orang lain sehingga tercipta sebuah kondisi masyarakat yang saling ketergantungan, maka seyogyanya jika kita juga sukarela menolong atau memberikan bantuan terhadap orang lain, perilaku ini biasa disebut perilaku kepedulian sosial.Sikap peduli untuk melakukan semua itu tidak bisa tumbuh begitu saja pada diri setiap orang, hal ini membutuhkan proses melatih dan mendidik terutama di sekolah. Dalam lingkungan sekolah perlu adanya penanaman sikap peduli sosial. Namun dalam kenyataannya kepedulian sosial sering di hadapkan pada beberapa pertimbangan khususnya di kalangan pelajar karena keterbatasan ekonomi dan kebutuhan yang memadai apalagi bagi mereka yang jauh dari orang tua. Perjuangan, kemandirian, dan penderitaan adalah suatu tuntutan yang wajib di jalani dan di terima oleh pelajar seperti pada dilema moral pelajar berikut ini.
Tiga bulan yang lalu salah seorang siswa pergi berlibur ke rumah orangtuanya bersama dengan teman-temannya yang searah karena setahun telah berpisah dengan orangtuanya untuk menuntut ilmu. Katakan saja Dia adalah bernama Tia. Jarak rumah orang tua Tia dengan tempat tinggalnya jauh sehingga biaya yang dibutuhkan sangat mahal. Tak heran jika Dia berlibur di rumah orang tuanya sekali satu tahun dalam sebulan. Setelah berlibur kurang lebih sebulan mereka balik di tempat di mana mereka menuntut ilmu. Waktu yang di tempuh dari Kampung ke tempat tujuan adalah 4 jam perjalanan pesawat.
Setibanya di kosan......,
Dua hari setelah itu, proses pembelajaran akan di mulai dan tentu setiap awal semeter pengeluaran banyak salah satunya adalah penyediaan buku paket. Tiga minggu kemudian temannya mempunyai keluhan yaitu kekurangan uang belanjaan dan pelunasan pembayaran buku panduan dan beberapa pengeluaran lainnya. Penyebab kekurangan uangnya adalah keterlambatan transferan yang di faktorkan karena ayahnya dalam keadaan sakit ginjal sehingga harus di operasi dan akibatnya uang yang seharusnya di transfer ke Putri terpakai untuk biaya operasi ayahnya sehingga menyebabkan adanya keterlambatan untuk pengiriman uang bulanan . Dia membutuhkan uang minggu ini dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan juga untuk melunasi pembelian buku paket yang hari ini juga adalah batas pelunasannya. Anggap hari tersebut adalah hari senin dan sebut saja orang tersebut bernama Putri. Putri teman akrabnya Tia sejak SD hingga di SMK. Seperti yang umumnya kita ketahui bahwa persahabatan yang telah terjalin selalu ada dalam situasi suka dan duka bahkan bisa jadi melebihi saudara. Ketika mereka berangkat ke sekolah di perjalan Tia menawari Putri untuk bersedia menemaninya setelah pulang sekolah nanti ke BRI menarik uang kiriman dari orang tua untuk kebutuhannya dalam minggu ini dan juga kebutuhan di sekolah karena pada umumnya di awal semester tentu ada banyak pengeluaran yang harus di bayar oleh setiap siswa seperti pembelian buku referensi, perlengkapan sekolah, baju dan terutama untuk kebutuhan setiap hari sebagai upaya mempertahankan hidup dan beberapa pengeluaran lainnya yang mungkin pelunasaanya bisa secara cicilan dan bisa juga secara lunas. Dengan hati yang gembira Putri bersedia bahkan merasa sangat senang ketika mendengarkan Tia mengajaknya di BRI karena sejuta harapan bahwasanya temannya ini nantinya bisa membantunya untuk memberikan pinjaman kepadanya sehingga dia tidak begitu panik dan sulit untuk mencari orang yang bisa meminjamkan uang kepadanya.
Setelah selesai jadwal sekolah mereka berdua langsung menuju ke BRI. Dan setibanya Tia masuk ke BRI sedangkan Putri menunggu di luar. Sambil menunggu Tia selesai menarik uang Putri mengirim SMS kepada keluarganya bahwa untuk transferan minggu ini bisa terlambat karena ada temannya yang bisa memberikan dia pinjaman untuk melunasi pembayaran keperluannya dan dengan hati yang senang orangtuanya berterimakasih karena bisa menggunakan sisa uang tersebut untuk keperluan selama proses operasi sang ayah berlanjut. Setelah selesai mereka balik dari BRI menuju ke kosan dan ketika tiba di kosan beberapa menit kemudian Putri memulai pembicaraan dengan topik "permintaan uang kepada Tia untuk dipinjamin dalam rangka pelunasan pembelian buku paket dan memenuhi persediaan sehari-haru. Tapi di luar dugaan permintaan Putri tidak bisa di penuhi oleh Tia karena pengeluarannya yang begitu banyak seperti pelunasan buku yang batas pembayarannya minggu ini, dan sisanya untuk belanjaan. Mendengarkan pernyataan dari Tia, Putri seakan-akan tidak berterima dan tidak percaya bahwa Tia tidak bisa membantunya. Sehingga dia beberapakali bertanya bahkan dia mendesak Tia supaya bisa di berikan pinjaman kepadanya karena batas pelunasan utangnya khususnya pelunasan pembelian buku paket tinggal beberapa jam lagi. Namun Tia tidak bisa membantu karna uang yang di transfer ke dia pas-pasan sehingga tidak bisa memberikan pinjaman kepada Putri. Akan tetapi Putri sangat mendesak Tia berulang-ulang sambil memperjelasakan kepadanya bahwa dia telah menginformasikan kepada orangtuanya bahwa transferan minggu ini bisa di tunda karena ada temannya yang bisa memberikan pinjaman kepadanya dan harapan satu-satunya dari Tia. Melihat pernnyataan Putri membuat Tia menjadi serba salah (Dilema Moral) karena jika dia memberikan pinjaman dengan Putri maka pelunasan utang untuk biaya di sekolah tidak tercukupi dan sisanya juga untuk biaya belanjaan. Tia tidak memberikan kepastian saat itu juga, dia berkata kepada Putri bahwasanya akan di berikan kepastian setengah jam kemudian setelah selesai kegiatannya. Putripun menyetujui apa yang di katakan oleh Tia dengan tatapan yang penuh dengan harapan dan merekapun berpisah.
Setibanya di kosan, Tia berpikir bahwa Putri telah berharap bahwa dia akan membantunya untuk melunasi sebagian besar kewajibannya (utangnya di sekolah) yang dapat di buktikan dengan sikap kepercayaan dirinya untuk menginformasikan kepada orangtuanya supaya uang transferan di tunda untuk bulan ini, namun di sisi lain juga dia di hadapkan dengan berbagai pertanyaan yaitu mengapa dia tidak menerima transferan dari orangtuanya?, mengapa seberani itu dia bisa berharap denganku tanpa menginformasikan terlebih dahulu?. Karena berbagai pertanyaan yang muncul maka dia harus mampu berpikir secara rasional . Setengah jam kemudian, setelah menentukan pilihan maka Tia memberanikan mengambil satu keputusan lagi dan mengatakan kepada Putri yaitu tidak bisa memberika pinjaman kepadanya dengan alasan uang yang di trasnfer ke dia cukup untuk kebutuhan minggu ini. Tia datang ke kosan Andre yang kebetulan juga Putri ada disana. Sambil menikmati air minum yang telah disediakan oleh Andre maka Tia memperjelaskan kepada Putri bahwa dia tidak bisa membantunya. Mendengarkan penjelasan dari Tia, Putri mulai khawatir karena telah menginformasikan kepada orangtuanya bahwa ada temannya yang membatunya untuk bisa di pinjamin uang untuk pelunasan utangnya yang waktu pelunasannya tinggal beberapa jam lagi. Namun dia tetap konsisten juga pada prinsip awalnya sehingga dia memohon dan mendesak Tia secara terus menerus dengan wajah yang menyedihkan dan sejuta harapan untuk bisa di berikan pinjaman. Akan tetapi Tia telah menetapkan satu keputusan bahwasanya tidak bisa membantunya. Melihat pernyataan Tia yang begitu keras maka Putri sangat kecewa karena tadi telah berharap kepada Tia bahwasanya bisa memberikan pinjaman dengannya. Sebagai wujud kekesalannya dia berkata Tia sangat egois, tidak peduli dengan temanya sambil meninggalkan Tia dan Andre. Namun beberapa langkah kemudian dia menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri Tia dengan harapan barangkali dia sudah ada perubahan pikiran, dia terus mendesak Tia agar di berikan pinjaman karena batas pelunasannya tinggal di hitung di jari. Akan tetapi Tia tetap tidak bisa membantunya. Usaha yang tidak sukses membuat Putri sedih hingga dia berkata kepada Tia yaitu kita telah berteman beberapa tahun, saling menolong jika ada keperluan namun di luar dugaan kejadian hari ini membuktikan bagiku sifatmu yang sesungguhnya, katakanlah jika kamu tidak mempercayaikan saya. Tia hanya bisa terdiam dan tidak berbuat apa-apa karena dia memahami bagaimana jika berada di posisi Putri sekarang. Sejak kejadian itu, Putri tidak akan pernah bersama Tia lagi bahkan bertemupun jarang. Dan hal itu yang membuat Tia menjadi lebih kuat untuk memberikan pemahaman dengan Putri karena dia tidak ingin jika akan terjadi hal-hal lainnya.
Keesokan harinya di sekolah...
Seperti biasanya pagi-pagi Putri dan Tia datang tepat pada waktunya, namun pada situasi saat ini Putri datang terlambat sehingga membuat Tia harus menunggu terlalu lama. Kisaran 30 menit Tia telah menunggu namun tidak ada kabar juga sehingga dia penasaran dan di sertai rasa takut serta kebimbangan jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. Tia berusaha untuk mengetahui keadaannya akan tetapi belum dapat informasi hingga jam pembelajaran sekolah selesai. Dia menanyakan ke teman-temannya malahan sebaliknya teman-teman Tia menanyakan ke dia mengapa Putri tidak masuk sekolah. Tia tidak bisa memberikan jawaban yang pasti sebelum memperoleh kepastian yang jelas, dia hanya bisa berkata bahwasanya dia tidak mengetahui keadaan Putri. Teman-teman Tia tidak percaya bahwasanya dia tidak mengetahui keadaan Putri yang sesungguhnya sebab setau teman-temannya mereka adalah teman yang paling akrab dan mampu mengetahui keadaan satu sama yang lain. Mereka mengatakan kepada Tia bahwa seandainya terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan maka orang yang menjadi saksi adalah kamu, orang yang bertanggujawab adalah kamu. Hati Tia pun penuh dengan kebimbangan karena jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan kepadanya maka jelas bahwa yang akan di jadikan saksi adalah Tia sehingga dia harus lebih kuat lagi untuk memperoleh informasi yang konkrit. Tak terasa waktu, jarum jam telah menujukkan pukul 14:50 Wib kini Tia pulang ke kosan setelah beberapa jam dia panik untuk mencari keberadaan Putri.
Setibanya di kosan...
Tia tidak pernah tenang sebelum mendapatkan informasi yang jelas. Dia mencoba mengecek di kosan Putri dan ternyata dia tidak ada (pintu terkunci). Tia menanyakan ke teman-teman tetangganya namun belum dapat informasi. Dia tambah paning dan sejuta pemikiran yang terlintas di benaknya. Di perjalanan sepulang dari kosan Putri, tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk mengatakan kejadian yang sejujurnya dan minta tolong kepada teman-temannya. Namun di luar pengetahuannya ternyata informasi yang sesungguhnya telah di ketahui oleh teman-temannya karena Andre telah memperjelaskan kepada mereka semua kejadian yang telah terjadi. Setelah di perjelaskan teman-temannya merasa kasihan sehingga mereka membuat satu kesepakatan untuk membantu Putri melunasi utangnya. Sejam kemudian telepon genggaman Tia berdering, dengan perasaan yang penuh harapan bahwa pasti Putri dan jiwa yang senang dia menerima telepon tersebut tapi suasan berubah seketika karena telepon tersebut dari salah seorang temannya. Percakapanpun berlangsung dengan pokok pembahasan bahwasanya mereka telah mengetahui penyebab Putri tidak masuk sekolah. Tia kaget dan seakan-akan tidak percaya bahwasanya temannya bisa mengetahui kejadian tersebut sehingga dia tak habis berpikir siapa yang pembawa kabar tersebut. Dia bertanya kepada temannya dengan siapa dia dapatkan informasi tersebut. Temannya pun memperjelaskan bahwa dari salah satu teman sekelas yaitu dari Andre. Tia mengitakan informasi tersebut. Seusai percakapn teman-temannya membuat satu kesepakatan untuk bisa membantu Tia, mereka datang ke tempat Tia dan berusaha menenangkan hatinya serta berjanji kepadanya bahwa mereka pasti menemukan keberadaan Putri.
Keesokan harinya...
Kini sudah 2 hari Putri tidak masuk sekolah dan keberadaannya belum dapat di pastikan sehingga teman-teman kelasnya merasa khawatir. Sebelum proses pembelajaran berlangsung tiba-tiba salah seorang siswa mengusulkan bagaimana jika di buat kelompok setelah pulang dari sekolah untuk berpencar menanyakan kepada setiap tetangganya barangkali ada yang mengetahui keberadaannya. Merekapun menyetujuinya. Setelah jam pembelajaran selesai mereka langsung membentuk kelompok dan terdiri dari 8 kelompok yang jumlah anggotanya 5 orang, mereka membagi lokasi berdasarkan kesepakatan, perencanaanpun berjalan dengan baik.
Ketika salah satu kelompok yang lewat di dekat kosan Putri tiba maka seorang warga memperhatikan mereka yang terlihat panik, sehingga membuat dia penasaran . Rasa penasaran yang semakin kuat akhirnya membuat dia untuk menghampiri mereka serta bertanya apa yang perlu mereka cari. Kelompok pelajarpun memberikan penjelasan kepada warga setempat terkait maksud dan tujuan mereka datang ke tempat itu. Setelah mendengarkannya maka orang tersebut mengangkat pembicaraan bahwasanya dia kenal dengan Putri dan sekarang dia berada di tempat saudaranya. Kelompok pelajar menginformasikan keteman-teman yang lain setelah mendengarkan instruksi dan bergegas menuju ke tempat yang di tunjukkan dan setelah sampai mereka melihat Putri sedang duduk dengan wajah yang murung. Mereka menghampirin Putri dan meminta penjelasan kepadanya apa yang menyebabkan dia menjadi murung dan tidak masuk sekolah. Putripun memberikan penjelasan bahwasanya ada banyak utangnya yang telah jatuh tempo dan belum ada luanasannya karena transferan yang belum terkirim akibat ayahnya yang mengalami operasi. Dia meminjam uang kepada Tia namun belum ada respon sama sekali. Berbagai penjelasan Putri membuat teman-temannya terharu bahkan sedikit ada yang meneteskan air mata, mereka memberikan pemaham bahwasanya Tia bukannya tidak mau membantunya akan tetapi uang yang di transfer ke dia terbatas dan merekapun mengajaknya untuk bisa sekolah lagi serta menginformasikan bahwasanya mereka bersedia membantunya untuk melunasi semua utangnya dan juga kebutuhannya secara sukarela. Akan tetapi Putri tetap bersikap keras dan tidak ingin masuk sekolah lagi. Namun, teman-temannya berusaha untuk mengajaknya hingga dia kemudian bisa sekolah.
Keesokan harinya di sekolah
Putri kembali ke sekolah seperti biasanya dan dia ingin menyendiri, dia tidak ingin melihat wajah Tia apalagi menghampirinya dan Tia pun memaklumi karena dia tau bagaimana posisi Putri saat ini.
Sepulang dari sekolah Tia berangkat sendirian jalan kaki karena jarak antara rumah dengan sekolah bisa terjangkau. Akan tetapi di luar dugaan di perjalanan dia bertemu dengan Putri di Halte Bus yang kelihatan murung . Tia sangat senang karena selama ini mereka jarang bertemu dan ketika bertemupun di sekolah mereka hanya bisa cuek-cuek saja. Tanpa berpikir panjang dia menghampiri Putri dengan tujuan utama ingin memperjelaskan kepada Putri bahwasanya dia bukannya tidak mau membantu akan tetapi uang yang di transfer ke dia terbatas dan semuanya sudah ada gunanya untuk kebutuhan. Setelah tiba, Tia memulai obrolan akan tetapi Putri tidak mempedulikan ke hadiran Tia dia lebih fokus pada handphonenya di bandingkan dengan Tia. Namun Tia tidak akan putus asa dia memulai omongan dengan mengatakan bahwasanya dia bukannya tidak peduli namun karena uang yang di transfer ke dia terbatas. Dia terus menerus menjelaskan panjang lebar namun reaksi dari Putri tetap negatif. Memperhatikan reaksi Putri maka Tia menghentikan omongannya karena pikirannya sekalipun dia berkoak-koak akan tetapi semuanya hanya di anggap sebatas radio yang tak berfungsi. Dia tetap setia mendampingin Putri hingga ada respon darinya. Akan tetapi harapan tidak sesuai dengan kenyataan malah sebaliknya dimana karena Tia tetap berada di samping Putri maka dia menjadi marah dan meminta supaya dia di tinggalkan. Akan tetapi Tia tetap bertahan pada prinsipnya yaitu tidak akan pulang atau meninggalkan Putri sebelum mendengarkan penjelasan darinya. Suasana makin memburuk dimana Putri berkata kepada Tia " Kamu jangan pernah mengganggu saya lagi, jangan pernah menghampiri saya dan jangan pernah anggap saya sebagai temanmu mulai dari sekarang karena saya tidak pernah mempunyai teman yang egois". Mendengarkan perkataan Putri maka Tia berkata"saya tidak egois, saya bukannya tidak peduli denganmu tapi diwaktu yang sama juga saya membutuhkannya dan tidak bisa membantumu". Namun Putri tidak mempedulikan apa yang di ucapkan oleh Tia. Dengan ekspresi yang mengeramkan dia meninggalkan Tia. Tia pun membiarkannya pergi dan dalam hati tetap berprinsip bahwasanya apapun resikonya dia tetap menghampiri Putri.
Seminggu kemudian Tia menghampiri Putri dan memperjelaskan apa penyebab mengapa dia tidak bisa memberikan pinjaman kepada Putri. Namun rencana tersebut tidak berhasil karena rasa kecewa Putri yang telah dalam berharap sepenuhnya. Akan tetapi Tia tidak akan pernah tenang sebelum memperjelaskan dengannya, dia ingin mencari cara bagaimana supaya Putri bisa memberikan waktunya. Seiring dengan berjalannya waktu maka dia mencoba meminta solusi dari teman-temannya bagaimana cara yang harus dia lakukan agar Putri mampu memberikan waktunya untuk bertemu dengannya. Teman-temannya mencoba memberikan solusi salah satunya adalah menunggu waktu yang tepat dan di harapkan yang menemuinya bukan Tia tetapi meminta salah seorang temannya untuk mengajak ketemuan. Tia menerima solusi dari teman-temannya dan sehari setelah itu temannya menemuin Putri. Setelah di temuin, hasilnya tetap tidak sesuai harapan dimana putri tetap dalam prinsipnya yaitu tidak mau menemui Tia bahkan dari pernyataannya Putri menyatakan bahwa saya tidak mau bertemu dengannya dan tolong jelasin ke dia bahwa persahabatan kami di akhiri saja. Mendengarkan pernyataan Putri maka temannya sedikit terkejut dan tetap berusaha agar Putri tidak berpikir sekejam itu, dia berusaha meyakinkan Putri bahwa semuanya hanya kesalah pahaman. Namun Putri tetap pada prinsipnya bahkan mengancam temannya jika ikut-ikutan maka getahnya akan kena ke dia. Temannyapun hanya terdiam dan langsung meninggalkan Putri dengan perasaan yang sedih. Dia menginformasika kepada Tia bagaimana respon Putri setelah di temui. Dengan perasaan yang sedikit menggetarkan dan penuh harapan Tia menyimak kata demi kata karena rasa takut jika pernyataan Putri tidak sesuai dengan harapan.
Setelah di perjelaskan pernyataan dari temannya maka Tia merasa sedih dan pasrah. Namun dia tetap di sponsori oleh teman-temannya sehingga dia menjadi lebih semangat lagi. Seminggu setelah itu dia mennggunakan satu strategi yang sama karena pikirnya barangkali pikirannya sudah tenang yaitu meminta bantuan temannya lagi untuk membujuknya dan memberikan gambaran mengapa dia tidak memberikan pinjaman kepada Putri. Dengan usaha yang maksimal pada strategi yang ke dua kalinya akhrinya Putri menerima tawaran dari Tia untuk memperjelaskan. Temannya memberitahukan kepada Tia bahwa kali ini Putri mau bertemu dengannya. Dengan kabar dan dia bergegas menghampiri Putri di kosannya walaupun perasaan sesungguhnya ada rasa takut. Pertemuanpun berlanjut dengan baik dimana Tia memulai pembicaraan dan Putri merespon juga dengan baik. Setelah di perjelaskan akhirnya Putri memahami bahwa semuanya adalah kesalah-pahaman dan persahabatan merekapun terjalin kembali.
بسم الله الرحمن الرحيم
ReplyDeleteالسلام عليكم ورحمة الله
Bagus ceritanya.
Terimakasih, jangan lupa tetap di update berikutnya ya.
ReplyDelete